Kamis, 29 Juli 2010

Gejala Stroke yang Sering Diremehkan

Merry Wahyuningsih - detikHealth


Jakarta, Stroke adalah penyakit yang menakutkan karena dapat menyebabkan kecacatan dan penderitaan baik bagi diri sendiri maupun keluarga, dalam jangka waktu yang lama bahkan seumur hidup. Sayangnya banyak gejela stroke yang sering diremehkan.

Sebaiknya kenali gejala stoke sejak dini, agar tidak terserang stroke total. Stroke menjadi penyakit penyebab kecacatan nomor 1 dan penyebab kematian nomor 3 di dunia.

Banyak definisi yang diberikan orang awam untuk penyakit stroke. Kelumpuhan sebelah, koma, kejang atau bicara pelo. Tapi definisi stroke menurut Badan Kesehatan Dunia (WHO) adalah terjadinya defisit neurologis mendadak (bukan perlahan), yang menetap lebih dari 24 jam dan disebabkan oleh faktor pembuluh darah atau sirkulasi, yaitu adanya penyumbatan atau pendarahan pada pembuluh darah.

"Defisit neurologis adalah gejala awal pada pasien stroke yang biasanya sering diabaikan. Defisit neurologis akan diketahui oleh pasien sendiri atau keluarga pasien, maka sebaiknya disadari sedini mungkin," kata dr Ashwin M. Rumawas, dokter spesialis saraf RS Royal Taruma pada seminar awam Kenali Gejala Stroke Secara Dini, di RS Royal Taruma, Jakarta, Sabtu (27/3/2010).

dr Ashwin menjelaskan, biasanya pasien atau keluarga pasien akan mengabaikan gejala-gejala awal ini, sehingga ketika mereka sudah menyadarinya dan membawa ke rumah sakit, stroke yang diderita sudah cukup parah dan menyebabkan stroke total yang susah untuk disembuhkan.

Menurut dr Ashwin, gejala defisit neurologis yang sering diabaikan meliputi:
Perubahan dan penurunan kesadaran
Ada tingkatan dalam kesadaran yaitu:

1. Compos mentis, yaitu ketika seseorang masih tersadar penuh
2. Apatis, yaitu kurangnya respons terhadap keadaan sekeliling, biasanya ditandai dengan tidak adanya kontak mata atau mata terlihat menerewang dan tidak fokus
3. Somnolen, yaitu keadaan dimana seseorang sangat mudah mengantuk dan tidur terus-menerus, tetapi masih mudah untuk dibangunkan
4. Sopor, yaitu kondisi tidak sadar atau tidur berkepanjangan, tetapi masih memberikan reaksi terhadap rangsangan (rasa sakit).
5. Koma, yaitu kondisi tidak sadar dan tidak ada reaksi terhadap rangsangan apapun.


Gangguan fungsi luhur
Gejala-gejala ini paling sering diabaikan oleh pasien atau keluarga pasien, karena dianggap hanya gangguan biasa yang bisa sembuh dengan sendirinya.
Cirinya:

1. Gangguan bahasa (afasia), yaitu kondisi dimana seseorang tiba-tiba tidak mengerti bahasa yang biasa digunakannya sehari-hari.
2. Gangguan mengenal tata ruang (gangguan visuospatial), yaitu kondisi dimana seseorang menganggap semua benda berada pada bidang datar, sehingga ia merasa cukup hanya dengan menjangkau dengan tangan tanpa beranjak, walaupun benda tersebut berada 5 m di depannya.
3. Gangguan berhitung (akalkulia), yaitu jika seseorang tiba-tiba kehilangan kemampuan berhitung dengan soal mudah sekalipun.
4. Gangguan menulis (agrafia), yaitu jika seseorang tiba-tiba tidak bisa menulis namun masih bisa membaca.
5. Gangguan membaca (alexia), yaitu jika seseorang tiba-tiba tidak bisa membaca namun bisa menulis.
6. Gangguan mengenal nama orang atau barang (anomia), bahkan dengan orang atau barang yang sering ditemuinya
7. Gangguan memori (amnesia)


Gangguan sensorik

1. Hemihipestesia (baal atau kurangnya sensitifitas pada 1 sisi)
2. Hemiparestesia (kesemutan 1 sisi)
3. Kesemutan sekitar mulut
4. Gangguan pengecapan atau lidah
5. Nyeri pada satu sisi tubuh


Kejang

1. Kejang fokal, yaitu kejang pada salah satu bagian tubuh (kanan atau kiri saja)
2. Kejang umum, yaitu kejang pada seluruh tubuh
3. kejang absans, yaitu kejang disertai waktu jeda dan kemudian kejang lagi secara berulang-ulang


Gangguan lapang pandang penglihatan

1. Buta mendadak 1 mata atau 2 mata
2. Gelap 1 sisi lapang pandang atau terdapat spot hitam di sekitar pandangan


Gangguan motorik

1. Hemiparesis (lemah sebelah badan, tangan kaki kanan atau kiri saja)
2. Quadriparesis (lemah keempat anggota badan, tangan kaki kanan dan kiri)
3. Paraparesis (lemah kedua kaki)
4. Gangguan gerak otot wajah, biasanya ditandai dengan bentuk bibir yang tiba-tiba miring
5. Gangguan gerak bola mata (oftalmoplegia)
6. Gangguan menelan (disfagia)


Nah, sebaiknya Anda mengetahui gejala-gejala diatas dengan baik, sehingga bila Anda atau keluarga Anda mengalami gejal-gejala diatas dapat segera ditangani dengan baik sebelum terlambat. Gejala stroke yang terlambat untuk didiagnosa akan menyebabkan terjadinya stroke total yang mungkin tidak bisa disembuhkan.(mer/ir)

sumber:http://us.health.detik.com/read/2010/03/27/150518/1326784/763/gejala-stroke-yang-sering-diremehkan

Sering Migrain Meningkatkan Risiko Stroke

Merry Wahyuningsih - detikHealth


Jakarta, Semua kalangan mulai dari anak-anak, orang usia muda, wanita, dan orang lanjut usia sering merasakan migrain alias sakit kepala sebelah karena berbagai penyebab. Sering migrain ternyata dapat menjadi faktor risiko yang menyebabkan seseorang terserang stroke.

Seperti dilansir dari medicalnewstoday, migrain biasanya sering disebabkan oleh alergi, lampu yang terlampau terang, suara bising, bau menyengat, stres, pola tidur tidak teratur, merokok aktif atau pasif, terlambat makan, alkohol, fluktuasi siklus menstruasi, kontrasepsi, fluktuasi hormon saat menopause, makanan yang mengandung tyramine (anggur merah, keju, ikan asap, hati ayam, dan beberapa kacang-kacangan), monosodium glutamat (MSG), atau nitrat (seperti daging dan hot dog). Dan juga makanan lain seperti cokelat, kacang, selai kacang, alpukat, pisang, jeruk, bawang, produk susu, dan makanan yang difermentasi atau acar.

"Migrain bisa menjadi faktor risiko terserang stroke," kata dr Ashwin M. Rumawas, dokter spesialis saraf RS Royal Taruma pada seminar awam Kenali Gejala Stroke Secara Dini, di RS Royal Taruma, Jakarta, Sabtu (27/3/2010).

Menurut dr Ashwin, migrain yang disertai dengan keluhan photophobia (ketakutan pada cahaya yang terang), sonophobia (ketakutan pada suara bising), vertigo (sakit kepala yang berputar-putar), gemetaran, menggigil, wajah memerah, keringat dingin, muntah, menurunnya kemampuan bicara dan disertai melemahnya salah satu bagian tubuh, bisa meningkatkan risiko seseorang terserang stroke.

"Sebaiknya berhati-hati bila Anda sering terserang migrain, karena bisa jadi itu dapat meningkatkan faktor risiko Anda terserang stroke," ujar dokter saraf yang juga berpraktik di RS Persahabatan Jakarta ini.

Secara lengkap dr Ashwin memaparkan faktor-faktor risiko yang dapat menyebabkan stroke, yaitu:

Yang tidak dapat dimodifikasi atau tidak dapat dihindarkan,
1. Usia
2. Jenis kelamin
3. Herediter
4. Ras atau etnik

Yang dapat dimodifikasi dan dapat dihindarkan,
1. Hipertensi
2. Diabetes mellitus
3. Merokok
4. Riwayat stroke sebelumnya. Seseorang yang pernah menderita stroke dan kemudian sembuh, memiliki risiko tinggi untuk terserang stroke kembali.
5. Kelainan jantung
6. Kelainan anatomis pembuluh darah
7. Gangguan kolesterol
8. Obesitas atau kegemukan
9. Endokarditis (infeksi jantung)
10. Meningitis (infeksi otak)
11. Migrain
12. Kelainan darah (Trombositas, leukemia, dan lainnya)

Untuk mencegah terjadinya stroke, sebaiknya segeralah lakukan tindakan pencegahan sebagai barikut
A. Mengatur pola makan yang sehat

1. Konsumsilah makanan rendah lemak jenuh (kolesterol). Dianjurkan untuk mengonsumsi biji-bijian seperti beras merah, jagung, oat (gandum utuh), kedelei, kenari dan kacang mede.
2. Mengonsumsi susu rendah lemak dan kaya protein, zinc, dan B12. Ikan tuna, salmon, ikan laut yang kaya EPA dan DHA.
3. Konsumsi makanan kaya vitamin dan antioksidan, seperti sayur, buah dan biji.
4. Kurangi asupan Natrium (monosodium glutamat, sodium nitrat, NaCl)
5. Meminimalkan makanan tinggi lemak jenuh, kurangi asupan asam lemak trans seperti pada kue, makanan digoreng dan mentega.
6. Utamakan makanan kaya serat, protein nabati
7. Hindari makanan kalori rendah (kalori kosong) dan kualitas nutrisi rendah, seperti permen, krupuk dan makanan ringan.


B. Olahraga teratur, melakukan aktifitas fisik dengan nilai aerobik seperti jalan, bersepeda, berenang, dan lainnya.
C. Berhenti merokok, hindari menjadi perokok aktif dan pasif
D. Hindari minuman beralkohol dan penyalahgunaan obat
E. Memelihara berat badan layak, dengan hindari pola makan tak sehat disertai olahraga teratur.
F. Hindari pemakaian kontrasepsi oral pada wanita perokok atau yang disertai faktor risiko lain, ganti dengan menggunakan metode KB yang lain.
G. Mengurangi stres, istirahat teratur, dan tidur 6 sampai 8 jam/hari.
H. Pemeriksaan kesehatan teratur, tatalaksana diet dan obat yang teratur.

(mer/ir)

sumber:http://us.health.detik.com/read/2010/03/28/080132/1326961/763/sering-migrain-meningkatkan-risiko-stroke

Penderita Kanker Usus Besar di Bandung Terus Meningkat

Andri Haryanto - detikBandung



Bandung - Penderita kanker usus besar (Karsinoma Kolorektal) di Bandung terus meningkat. Bukan hanya terjadi pada penderita berusia di atas 30-40 tahun. Penyakit mematikan ke tiga di dunia ini juga mulai menyerang kalangan mudia yang berusia di bawah 30 tahun.

Dijelaskan Spesialis Bedah dan Konsultan Bedah Digestif, dr. Kiki Lukman M.Sc., SpB-KBD, di Rumah Sakit Hasan Sadikin, sedikitnya tercatat 131 pasien penderita
kanker usus besar di tahun 2009.

"Tahun-tahun sebelumnya peningkatan hanya mencapai 30 persen, namun catatan terakhir jumlah penderita kian meningkat dan mencapai 54 persen," kata Kiki usai
Media Roadshow 'Cegah KAnker Usus Besar dengan Gaya Hidup Sehat', di Hotel Holiday Inn, Jalan Ir. Juanda, Sabtu (17/4/2010).

Pertambahan penderita, jelas Kiki, telah terjadi sejak tahun 1995 lalu saat RSHS membuka ruang khusus penderita kanker usus besar.

Meski kasat mata ada peningkatan angka, Kiki tidak ingin berspekulasi apa penyebab dari kenaikan angka tersebut. "Masih kita teliti apa penyebabnya," jawab Kiki. "Namun, dugaan awal disebabkan bergesernya pola makan dan kualitas makanan di kalangan anak muda," tambahnya.

Peningkatan penderita di kalangan anak muda diakuinya cukup mengejutkan, "Di Amerika saja hanya mencapai 3-8 persen pebderita yang di bawah 30 tahun," ujar Kiki.

Di tempat sama, Direktur Eksekutif Yayasan Kanker Indonesia (YKI), Dr. Aru Wisaksono Sudoyo, SpBD, KHOM, SACP, meminta masyarakt waspada dini dari kanker yang menyerang.

Masyarakat dapat mengetahui gejala tersebut dari darah yang keluar saat buang air besar. "Jangan remehkan darah yang keluar, segera periksa untuk mengetahui kepastian apakah memang terserang atau tidak," imbau Aru.

Gejala lainnya dapat dilihat dari berat badan yang menurun tanpa sebab, perubahan pola buang air besar, anemia, dan terluhat pucat. Semantara faktor berisiko yang dapat mendorong terjadinya kanker adalah kurangnya olahraga, gaya hidup atau cara diet yang salah, dan obesitas atau overweight.

"Makanlah sayuran yang daunnya sudah dimakan ulat. Karena itu pasti tidak berpestisida," imbau Aru.

Kanker usus besar sendiri disebabkan adanya tumor yang ada di usus besar sampai dengan anus. Tumor tersebut bersifat mampu menarik suplai darah ke tumor sekaligus memotong 'pipa' saluran. Sehingga, usus yang terserang tersebut mau
tak mau harus dipotong.

Selanjutnya pasien akan dibantu pembuangannya melalui lubang (stoma) yang berada di sebelah kiri perut. Selama itu, pasien (ostomate) akan dibantu oleh kantung
stoma agar pembuangan tertampung.

(ahy/dip)

sumber:http://us.bandung.detik.com/read/2010/04/17/180821/1340274/486/penderita-kanker-usus-besar-di-bandung-terus-meningkat

Penyakit Diabetes di Indonesia Bakal Meledak di 2030

Bagus Kurniawan - detikHealth


img
Ilustrasi (Foto: obesityfacts)
Yogyakarta, Perubahan gaya hidup masyarakat mengakibatkan pola makan berubah tapi kurang olahraga. Jangan heran jika 20 tahun lagi atau 2030 Indonesia akan mengalami ledakan penderita Diabetes Miletus (DM).

Saat ini Indonesia dengan jumlah penduduk terbesar itu masuk 5 besar negara dengan penderita DM yang terbanyak. Negera urutan pertama penderita DM adalah India, kedua China, ketiga Amerika Serikat (AS) dan keempat Indonesia. Oleh karena harus ada upaya mulai sekarang agar jumlah penderita semakin bertambah.

Hal itu diungkapkan dr Agus Widiyatmoko, SpPD, MSc, Bagian Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) dalam seminar Diabetes dan Kebutaan yang
diselenggarakan Asri Medical Center (AMC) di gedung AMC di Jalan HOS Cokroaminoto, Yogyakarta, Sabtu (29/5/2010).

"Bila tidak dicegah jumlahnya akan meningkat 3 kali lipat dari sekarang. Sedang negara-negara lain jumlahnya hanya meningkat 2 kali lipat karena sudah mulai melakukan pencegahan," kata Agus.

Peningkatan itu diprediksi akibat penduduk Indonesia yang semakin makmur dan perubahan gaya hidup. Perubahan itu mengakibatkan pula berubahnya pola makan penduduk. "Itu salah satu penyebabnya. Banyak mengonsumsi makan tapi
kurang aktifitas olahraga," katanya.

Agus mengatakan penderita DB itu ibaratnya kontrak sakit seumur hidup. Dengan demikian upaya yang bisa dilakukan adalah mampu mengontrolnya dan hidup sehat dengan DB. Selain itu DB juga bisa menimbulkan komplikasi penyakit lainnya seperti saraf, ginjal hingga kebutaan.

"Karena itu bila ada penderita DB harus dihentikan agar jangan sampai komplikasi misalnya terjadi kebutaan seperti kasus penyanyi keroncong Mus Mulyadi," katanya

Cara yang dilakukan lanjut Agus, adalah melakukan edukasi kepada masyarakat agar jangan salah persepsi terhadap DB terutama berkaitan dengan obat untuk penderita.

Selanjutnya melakukan diet atau mengatur pola makan, baik jumlah makanan yang harus dimakan setiap hari, jenis makanan yang dimakan dan waktu makan.

"Makan 3 kali sehari itu perlu karena tubuh perlu kalori tapi harus diatur. Ini yang kadang-kadang susah dilakukan dengan tepat oleh semua penderita," katanya.

Dia mengatakan olahraga rutin dua atau tiga kali sehari juga mampu mencegah. Olahraga mampu menurunkan kadar gula darah sekitar 10-15 persen. Olahraga yang disarankan adalah bukan olahraga dengan intensitas tinggi untuk membakar kalori, tapi efek yang ditimbulkan setelah olahraga.

"Idealnya 30 menit hingga 45 menit pada pagi hari sudah cukup atau dengan senam DB yang khusus diadakan bagi penderita," pungkasnya.

(bgs/ir)

sumber:http://us.health.detik.com/read/2010/05/29/124550/1365856/763/penyakit-diabetes-di-indonesia-bakal-meledak-di-2030

Mitos Salah Diabetes Menyengsarakan Kehidupan Penderitanya

AN Uyung Pramudiarja - detikHealth


img
Ilustrasi (foto: getty images)
London, Sebagian besar orang meyakini mitos yang salah tentang diabetes, misalnya banyak makan makanan manis adalah pemicunya. Anggapan-anggapan itu kemudian memicu perilaku diskriminatif.

Dikutip dari Telegraph, Senin (14/7/2010), ada sejumlah perilaku diskriminatif yang sering muncul terkait penyakit diabetes. Perilaku tersebut menimpa anak kecil yang mengidap diabetes, serta orang dewasa yang harus menyuntikkan insulin di tempat umum.

Dalam sebuah survei terhadap 2.000 orang dewasa di Inggris, terungkap bahwa 42 persen responden menganggap konsumsi gula yang terlalu banyak merupakan penyebab diabetes. Survei tersebut digelar oleh sebuah lembaga amal, Diabetes UK menyambut Pekan Diabetes 2010.

Anggapan tersebut dinilai telah menyebabkan anak kecil yang mengidap diabetes sering mengalami intimidasi dari teman sebaya yang meyakininya. Seolah-olah penyakitnya tersebut merupakan akibat dari kebiasaan buruk, misalnya banyak makan permen.

Padahal menurut salah satu aktivis LSM tersebut, Simon O’Neill, diabetes yang dialami anak kecil adalah tipe 1 yang tidak terkait dengan diet. Umumnya merupakan kelainan genetik, sehingga tidak ada hubungannya dengan kebiasaan makan makanan manis.

Sementara diabetes yang dipicu oleh diet dan gaya hidup adalah diabetes tipe 2, yang biasanya dialami oleh orang dewasa. Pada tipe ini, obesitas juga bisa menjadi faktor risiko.

Perilaku diskriminatif lainnya menimpa pengidap diabetes yang harus menyuntikkan insulin di tempat umum. Kelompok ini sering mendapat ejekan dan bahkan dijauhi karena dianggap berbeda.

"Orang yang harus menyuntikkan insulin tidak punya pilihan. Insulin membuat mereka tetap hidup, sehingga harus disuntikkan pada waktu-waktu tertentu," tegas O'Neill.

Pendapat itu disampaikan terkait anggapan bahwa pengidap diebetes tidak boleh mengemudi dan tidak bisa berolahraga. Bahkan ada sebagian kecil yang menganggap diabetes merupakan penyakit menular.

(up/ir)

sumber:http://us.health.detik.com/read/2010/06/14/161523/1378005/763/mitos-salah-diabetes-menyengsarakan-kehidupan-penderitanya

Kenapa Penderita Diabetes Sering Pipis dan Haus?

Vera Farah Bararah - detikHealth


img
(Foto: diolah)
Jakarta, Salah satu gejala yang muncul dari penyakit diabetes adalah sering buang air kecil dan merasa haus. Apa yang membuat pederita penyakit yang susah sembuh ini sering pipis dan haus?

Pakar diabetes Prof Dr dr Sri Hartini KS Kariadi, SpPD, KEMD menjelaskan, jika kadar gula darah dalam tubuh seseorang tinggi, maka glukosa yang tidak bisa dimetabolisme akan ikut terbuang melalui urine.

Hal ini menyebabkan urine menjadi lebih kental, sehingga membutuhkan air untuk mengencerkannya. Air yang digunakan ini diambil dari dalam tubuh.

"Akibatnya tubuh akan mengalami dehidrasi sehingga membutuhkan banyak minum. Jika seseorang banyak minum, maka buang air kecilnya juga akan menjadi lebih sering," ujar Prof Sri dalam acara Media Edukasi dan Peluncuran Buku 'Diabetes? Siapa Takut!', di Hotel le-Meridien, Jakarta, Kamis (29/7/2010).

Prof Sri menuturkan terdapat lima gejala klasik (khas) dari diabetes, yaitu:

  1. Poliuri, sering buang air kecil dengan volume yang banyak dan biasanya lebih sering di malam hari.
  2. Polidipsi, yaitu sering merasa haus dan ingin minum sebanyak-banyaknya.
  3. Polifagi, yaitu nafsu makan yang meningkat.
  4. Berat badan menurun secara drastis sehingga seseorang menjadi lebih kurus.
  5. Kurang bertenaga.

Namun kadang terdapat gejala-gejala lain yang muncul seperti kesemutan di kaki, gatal-gatal yang biasanya terjadi di daerah selangkangan serta luka yang tak kunjung sembuh. Gejala-gejala ini disebut dengan gejala komplikasi yang menunjukkan sudah adanya komplikasi yang terjadi.

Gula darah yang selalu tinggi pada penderita diabetes dapat terjadi karena 2 hal, yaitu pankreas yang tidak dapat menghasilkan insulin dan yang kedua karena kerja insulin mengalami hambatan atau terganggu. Hambatan insulin atau resistensi insulin sering terjadi karena kegemukan (obesitas).

"Obesitas merupakan salah satu faktor risiko dari diabetes, tapi faktor risiko ini bisa dicegah dengan menjaga berat badannya agar tetap tidak berlebih. Karena obesitas yang berbahaya itu jika banyak lemak di perut," ungkap guru besar Universitas Padjajaran ini.

Diabetes adalah penyakit yang ditandai dengan tingginya kadar gula dalam darah dan juga dikenal sebagai penyakit kencing manis.

Hal ini karena di dalam urine diabetesi memang terdapat gula yang rasanya manis, padahal urine yang normal ini tidak mengandung gula dan tentunya tidak terasa manis. Dan penyakit ini bisa menyerang siapa saja.

(ver/ir)


sumber:http://us.health.detik.com/read/2010/07/29/141310/1409415/763/kenapa-penderita-diabetes-sering-pipis-dan-haus

Kematian Lansia karena Diabetes Rangking No 2 di Indonesia

Rois Jajeli - detikSurabaya

Surabaya
- Bagi kalangan lanjut usia jangan menyepelekan penyakit diabetes melitus (DM). Karena diabetes khususnya penderita berumur di atas 45 tahun tercatat penyakit yang mematikan nomor urut dua di Indonesia.

"Ya lihat-lihat umurnya. Kalau dibawah umur 15 tahun, tingkat (nomor urut penyebab kematian, Red) 9. Kalau diatas 15 sampai 45 tahun tingkat 6. Sedangkan diatas 45 tahun tingkat 2," kata Ketua PB Persatuan Diabetes Indonesia (PERSADIA), Dr dr Achmad Rudijanto, SpPD-KEMD saat jumpa pers usai acara Hari Kebersamaan Diabetes Nasional 2010, di lapangan Makodam V Brawijaya, Surabaya, Minggu (18/7/2010).

Dari data hasil RISKESDAS (2007) menunjukkan prevalensi diabetes sebesar 5,7 persen. Sedangkan prevalensi pre-diabetes sebesar 10,8 persen dan prevalensi obesitas sentral sebesar 18,8 persen. Kedua keadaan tersebut merupakan faktor risiko timbulnya diabetes.

Sementara itu, International Diabetes Federation (IDF) memperkirakan terjadinya peningkatan jumlah pasien DM di Indonesia, dari 7 juta pada tahun 2009 diprediksi mencapai 12 juta pada tahun 2030. Sedangkan World Health Organization (WHO) memperkirakan kenaikan jumlah yang lebih besar, yakni dari 8 juta pasien pada tahun 2000 menjadi 21 juta pada tahun 2030.

Ketua PERSADIA Cabang Surabaya, Prof DR dr Agung Pranoto, MSc, SpPD, K-EMD, FINASIM menambahkan, pasien diabetes dapat menggunakan insulin lebih dini dapat memberikan harapan yang lebih baik bagi pasien, dalam mengontrol gula darah dan mencegah terjadinya komplikasi vaskular.

"Pemberian insulin pada saat yang tepat akan memberikan hasil yang lebih baik pada pasien diabetes. Tapi kenyataannya, sampai saat ini masih terdapat persepsi yang salah tentang pemberian insulin. Pasien diabetes kerap menganggap pemberian insulin sebagai pilihan terapi terakhir," tuturnya.

Sementara itu, Widji Soerati (59) salah satu penderita diabetes mengatakan, jika penyakit diabetes tidak bisa diusir (disembuhkan), dapat dijadikan sebagai teman baik. Asalkan kontrol rutin dan menjaga kadar gula darah, menjaga pola hidup sehat dan rajin berolah raga.

"Tekad untuk bisa hidup lebih sehat dan dapat menjalankan semua aktivitas secara normal membuat saya bisa berdamai dengan diabetes. Dan rasa nyeri saat menyuntikkan insulin menjadi tidak berarti. Resep saya untuk tetap bersemangat menjalani pola hidup yang sehat dan selalu ikut aturan," ujar Soerati.

(gik/gik)

sumber:http://us.surabaya.detik.com/read/2010/07/18/181131/1401583/466/kematian-lansia-karena-diabetes-rangking-no-2-di-indonesia

Solusi Buat Anda!!

Alpha lipid Terbukti efektif mengatasi berbagai gangguan pada organ reproduksi wanita. Perlu diketahui bahwa Wanita sekarang mempunyai banyak keluhan sewaktu Menstruasi, Keputihan wanita, Kekuningan, Bau yang tidak sedap,Selalu gerah dan gatal, Mengalami inveksi vagina yang disebabkan karena bakteri, Infeksi kandung kemih karena bakteri dan penyakit ganas yang dpt mengancam jiwanya seperti : Kanker Rahim, Kanker Payudara, Kanker Ovarium, Endometriosis, Kista dan Myom.

Untuk pembelian alpha lipid silahkan email : alphalipid_health@yahoo.com

Alpha Lipid Juga Baik untuk : Asma, Arthritis, Allergy, Buasir, Bisul, Buah Pinggang, Denggi, Ezema, Fybroid, Gout, Gastrik, Haid, Hepatitis B/C, Jerawat, Jangkitan Kuman, Kayap, Kanker, Kencing Manis, Keletihan, Leukimia, Masalah paru-paru, Masalah Usus, Migrain, Stroke/Lumpuh, Sakit Sendi, SLE/Lupus, Sakit Kulit, Thyroid, Demam Campak, Jantung, TBC, Parkinson, Ulser, Lemah Syahwat, Awet muda dan Kekurangan oksigen dalam darah.

Label

Live Blog Stats